Tampilkan postingan dengan label Puisi Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Islami. Tampilkan semua postingan
30 Jul 2010
Misteri Hidup
Diposting oleh
Annaz Aufa
di
11.42
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Puisi Islami
29 Jul 2010
Subuh
Selimut itu selalu saja mengisyaratkan maut
Seperti warna fajar di ufuk timur
Dan aku masih terjebak dalam kantuk yang buruk
Dalam jeruji kamar dengan dinding memar
Karena setiap hari selalu terbakar
Gemuruh bahasa yang menyala tanpa dosa
Ah, subuh terlalu dingin
Setelah semalaman hujan melumpuhkan
Setiap mimpi yang berawal dengan ketakutan
Sebab setiap saat nyawa yang tercerabut dari akarnya
Jasad kita, yang tak pernah sempurna
''asshalaatu khairum minan naum...''
Seperti warna fajar di ufuk timur
Dan aku masih terjebak dalam kantuk yang buruk
Dalam jeruji kamar dengan dinding memar
Karena setiap hari selalu terbakar
Gemuruh bahasa yang menyala tanpa dosa
Ah, subuh terlalu dingin
Setelah semalaman hujan melumpuhkan
Setiap mimpi yang berawal dengan ketakutan
Sebab setiap saat nyawa yang tercerabut dari akarnya
Jasad kita, yang tak pernah sempurna
''asshalaatu khairum minan naum...''
Diposting oleh
Annaz Aufa
di
12.33
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Puisi Islami
Seusai Sembahyang
Jangan kutuk wiridku,
Kataku seusai sembahyang
Aku ingin membuahi sujudku
Yang lama kesepian
Mencari silsilah takbirku
Yang putus sekian fatihah
Yang kelak menjadi anak-anak tangga
Menuju akhirat!
Masih juga kau karamkan sampan taubatku
Aku pun tenggelam
Tiada peta kuselami penyesalan demi penyesalan
Di antara kesunyian dan Pencipta Sunyi
Samar-samar kutemu pelita telah rabun
Mewarnai gelora doa dalam satu dzikir purba
Kataku seusai sembahyang
Aku ingin membuahi sujudku
Yang lama kesepian
Mencari silsilah takbirku
Yang putus sekian fatihah
Yang kelak menjadi anak-anak tangga
Menuju akhirat!
Masih juga kau karamkan sampan taubatku
Aku pun tenggelam
Tiada peta kuselami penyesalan demi penyesalan
Di antara kesunyian dan Pencipta Sunyi
Samar-samar kutemu pelita telah rabun
Mewarnai gelora doa dalam satu dzikir purba
Diposting oleh
Annaz Aufa
di
12.32
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Puisi Islami
Sepertiga Malam
SEPERTIGA MALAM
Kepada siapa hendak kuceritakan
Bahwa aku rindu ayat-ayat Tuhan
Beratus jejak berkarat terkubur debu
Merasuk dalam nurani beku
Entah pada catatan harian
Atau berbait-bait sajak
Aku ingin menulis dosa
Bahwa hidup tak sekedar tangisan tanpa suara
''sebab neraka tak dingin oleh airmata''
SAJAK MENJELANG JAM TIGA PAGI
Mungkin cuma sajak yang bisa tertulis
Ketika hati tak bergetar lagi
Mendengar ayat-ayat Tuhan
Langkah kaki setelah mencium tangan ibu
Tercatat dalam sejarah kelam
aku terseok
Tergeragap mengeja zaman
Meradang
Sebelum akhirnya menggelepar di atas lantai tanpa sajadah
Sia-sia menyulam sesal
Kepada siapa hendak kuceritakan
Bahwa aku rindu ayat-ayat Tuhan
Beratus jejak berkarat terkubur debu
Merasuk dalam nurani beku
Entah pada catatan harian
Atau berbait-bait sajak
Aku ingin menulis dosa
Bahwa hidup tak sekedar tangisan tanpa suara
''sebab neraka tak dingin oleh airmata''
SAJAK MENJELANG JAM TIGA PAGI
Mungkin cuma sajak yang bisa tertulis
Ketika hati tak bergetar lagi
Mendengar ayat-ayat Tuhan
Langkah kaki setelah mencium tangan ibu
Tercatat dalam sejarah kelam
aku terseok
Tergeragap mengeja zaman
Meradang
Sebelum akhirnya menggelepar di atas lantai tanpa sajadah
Sia-sia menyulam sesal
Diposting oleh
Annaz Aufa
di
12.31
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Puisi Islami
Maka Dengarlah
Maka dengarlah petir
Yang tak habis berzikir
Dalam gelegarnya
Dan kilat
Yang ingin menghalau gelap
Dengan keheningan cahayanya
Dan angin
Yang melagukan kasidah sunyi
Dalam derunya
Dan hujan
Yang ingin melepas dahaga bumi
Dengan cucuran tasbihnya
Pada pemujaannya
Tak henti-henti
Maka dengarlah
Saat badai menyapa bumi
Dan kau akan tahu
Betapa kecilnya dirimu ini
Maka dengarlah
Sebelum badai berakhir
Sebelum telingamu menuli
Sebelum duniamu runtuh esok hari
Yang tak habis berzikir
Dalam gelegarnya
Dan kilat
Yang ingin menghalau gelap
Dengan keheningan cahayanya
Dan angin
Yang melagukan kasidah sunyi
Dalam derunya
Dan hujan
Yang ingin melepas dahaga bumi
Dengan cucuran tasbihnya
Pada pemujaannya
Tak henti-henti
Maka dengarlah
Saat badai menyapa bumi
Dan kau akan tahu
Betapa kecilnya dirimu ini
Maka dengarlah
Sebelum badai berakhir
Sebelum telingamu menuli
Sebelum duniamu runtuh esok hari
Diposting oleh
Annaz Aufa
di
11.22
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Puisi Islami
Mengarung Remang
MENGARUNG REMANG (1)
''kabut senja magrib''
Semestinya tak terlalu awal
Remang itu mengubur temaram
Sedang arakan mega
Belum selesai mengecup merah senja
Dan keletihan ombak seharian
Masih tak jemu mengadu biru lautan
Pada bening pantai
Di atas lelah sajadah
Kumendesah dalam nafas tasbih
Sebentar lagi kabut menelan adzan
MENGARUNG REMANG (II)
Terkurung senyap, sunyi malammu kuhampar sajadah
Dengan selembar cahaya
Ketika derai isak kian merasuk
Kehening rukuk dan sujud tahajjudku
Tapi selalu saja
Sepi jiwaku menyimpan gerhana
''kabut senja magrib''
Semestinya tak terlalu awal
Remang itu mengubur temaram
Sedang arakan mega
Belum selesai mengecup merah senja
Dan keletihan ombak seharian
Masih tak jemu mengadu biru lautan
Pada bening pantai
Di atas lelah sajadah
Kumendesah dalam nafas tasbih
Sebentar lagi kabut menelan adzan
MENGARUNG REMANG (II)
Terkurung senyap, sunyi malammu kuhampar sajadah
Dengan selembar cahaya
Ketika derai isak kian merasuk
Kehening rukuk dan sujud tahajjudku
Tapi selalu saja
Sepi jiwaku menyimpan gerhana
Diposting oleh
Annaz Aufa
di
11.22
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Puisi Islami
Orang Tua
Warna-warna senja
Semakin menghitam di matamu
Kau tak lagi melihat
Bagaimana air mengalir
Bagaimana indahnya alam raya
Kau sudah tua, ternyata
Seringkali kudapati kau
Menatap senja disetiap waktumu
Adakah kau ingat?
Bagaimana dahulu kau diajarkan
Cara bersyukur dengan rendah hati
Keangkuhanmu semakin menua
Karena kau sadar kini
Usiamu kian senja
Seperti warna-warna senja hari
Semakin menghitam di matamu
Kau tak lagi melihat
Bagaimana air mengalir
Bagaimana indahnya alam raya
Kau sudah tua, ternyata
Seringkali kudapati kau
Menatap senja disetiap waktumu
Adakah kau ingat?
Bagaimana dahulu kau diajarkan
Cara bersyukur dengan rendah hati
Keangkuhanmu semakin menua
Karena kau sadar kini
Usiamu kian senja
Seperti warna-warna senja hari
Diposting oleh
Annaz Aufa
di
11.20
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Puisi Islami
Sebuah Hati
Seperti kapas putih jatuh pelan dikesiurkan nafas illahi
Dan aku, sebuah hati yang maha gagu,
Membawa damba berkah setelah peribadatan demi peribadatan dilabuhkan
Menuju ke sebuah pengabdian yang kudus,
Sebelum uban menyemai di pucuk-pucuk rambut dan bulu tubuhku
Beribu-ribu doa kupanjatkan demi sebuah hati yang rapuh
Agar tak menyerapah sewaktu sembilu
Betapa pun perih!
''Kau dzat paling tersyairkan untukku
Memeluk lembar hati yang gegar tanpa risalah kepamrihan
Menerangi kegelapan, menerangi kesunyian''
Ah, ijinkan aku mereguk ridhoMU hingga tetes ruh penghabisan
Sepertiga malam yang riuh, aku saksikan sebuah hati telah menyala
Dalam beningnya jiwa
Dan tafakur inilah yang selamanya menggenapkan keluh-peluh
Sampai ke paling terberkati
Dan aku, sebuah hati yang maha gagu,
Membawa damba berkah setelah peribadatan demi peribadatan dilabuhkan
Menuju ke sebuah pengabdian yang kudus,
Sebelum uban menyemai di pucuk-pucuk rambut dan bulu tubuhku
Beribu-ribu doa kupanjatkan demi sebuah hati yang rapuh
Agar tak menyerapah sewaktu sembilu
Betapa pun perih!
''Kau dzat paling tersyairkan untukku
Memeluk lembar hati yang gegar tanpa risalah kepamrihan
Menerangi kegelapan, menerangi kesunyian''
Ah, ijinkan aku mereguk ridhoMU hingga tetes ruh penghabisan
Sepertiga malam yang riuh, aku saksikan sebuah hati telah menyala
Dalam beningnya jiwa
Dan tafakur inilah yang selamanya menggenapkan keluh-peluh
Sampai ke paling terberkati
Diposting oleh
Annaz Aufa
di
11.18
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Puisi Islami
Senja di Kuburan
''sore itu''
Dalam
Dingin
Tanah merah membentuk lobang kecil bekas tetesan hujan
Abadi
Laron-laron kecil terbang mencari sinar di kuburan
Tak ada sinar di sini
Di sini hanya ada dinginnya air hujan
Tanah merah yang basah
Dan matahari yang segera tenggelam
''malam ini''
Keheningan yang kudapati malam ini
Sungguh tidak menenangkanku
Angin malam yang menyapaku malam ini
Sungguh tidak menghilangkan sepi
Karena kau hanya jadi kabut
Saat gemuruh sunyi menabik hati
Kau memilih menjadi kabut
Walau aku memintanya
Walau aku memohon padamu!
Dan kau tak pernah ada di sini
Meski telah kuberikan nyawaku padamu
Diposting oleh
Annaz Aufa
di
11.18
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Puisi Islami
Wajah Cahaya
Wajah cahaya itu membuka pagi ini
bersama bagaskara
yang terpana
pada senyumnya yang mawar
Ia melintasi padang rinduku
dengan jilbab terkibar menyampaikan
senandung tasbih
Angin sejenak terhenti
terjebak dalam pesona
Ia adalah cahaya putih
yang menyublimkan hati-hati melati
juga membekukan segulung rindu
lewat tatapannya yang kilat
menjelma dendam yang terpahat
Wajah cahaya itu,
melintasi padang waktuku
dengan senyumnya yang paling mawar
bersama bagaskara
yang terpana
pada senyumnya yang mawar
Ia melintasi padang rinduku
dengan jilbab terkibar menyampaikan
senandung tasbih
Angin sejenak terhenti
terjebak dalam pesona
Ia adalah cahaya putih
yang menyublimkan hati-hati melati
juga membekukan segulung rindu
lewat tatapannya yang kilat
menjelma dendam yang terpahat
Wajah cahaya itu,
melintasi padang waktuku
dengan senyumnya yang paling mawar
sumber : http://peperonity.com
Diposting oleh
Annaz Aufa
di
10.45
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
Puisi Islami
Diberdayakan oleh Blogger.
Kata Mutiara
Blog Archive
Labels
Entri Populer
About Me
- Annaz Aufa
- Seorang Laki Laki Yang Keras Kepala, Emosional dan Selalu Ingin Menang Sendiri..
